TEMPAT YANG MEMBUTUHKAN KESEHATAN MENTAL
Pembimbing : Drs. Ahmad Syamsuri, MM.
Di Sajikan Oleh :
1. Alphonsus Dananjaya K 3108004
2. Derry Putri Haryani K 3108015
3. Hadana Ulufannuri K 3108025
4. Happy Diyah Sari Finishiawati K 3108026
5. Muhammad Dafid Alfian K 3108038
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2011
TEMPAT YANG MEMBUTUHKAN KESEHATAN MENTAL
Tempat yang membutuhkan kesehatan mental dibagi menjadi 2, yaitu Lingkungan Primer dan Lingkungan Sekunder. Lingkungan yang paling awal dikenal dan terdekat oleh anak adalah adalah lingkungan primer. Lingkungan primer merupakan lingkungan keluarga di dalamnya terjadi interaksi yang inten dengan orang tua. Orang tua secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi setiap terbentuknya perilaku dasar pada anak. Anak cenderung melakukan copying terhadap hal-hal yang terjadi disekitarnya, maka orang tua merupakan pihak yang sangat bertanggung jawab terhadap arah perkembangan anak. Disamping lingkungan primer, anak juga akan dihadapkan pada lingkungan sekunder. Lingkungan kedua ini merupakan lingkungan sekolah. Di lingkungan ini anak tidak hanya belajar pada tataran akademik tapi anak juga akan turut belajar bagaimana untuk melakukan sosialisasi terhadap orang-orang sekitarnya, terlebih dengan sebayanya. Pada lingkungan ini anak juga akan terpengaruh pada dinamisasi di dalamnya. Seperti pada lingkungan primer, lingkungan sekunder mempunyai peranan penting dalam mengawal masa transisi anak.
1. Lingkungan Primer
Keluarga : tempat pertama anak memperoleh pendidikan dan contah – contoh perkembangan pribadi anak berasal dari hereditas dan lingkungan sosial (W.Stern)
Kartini Kartono : kekeliruan perbuatan orang tua (salah asuh, ucapan, tindakan orangtua) menjadi sumber tindak asusila, gangguan mental dan konflik batin pada anak
Bebrapa kejadian yang menimbulkan gangguan mental dan konflik batin pada anak.
Beberapa kejadian yang menimbulkan gangguan mental (kartini Kartono) :
Kegagalan
Kebingungan
Larangan sosial,
Overprotection,
Ditolak Ortu,
Broken home,
Cacat fisik,
Pengaruh ortu,
Lingkungan sekolah yang buruk,
Lingkungan sosial yang buruk
2. Lingkungan Sekunder
a. Lingkungan Sekolah
Pada umunya perhatian akan pentingnya kesadaran dan pemahaman terhadap kesehatan mental di lingkungan sekolah kerap luput. Perlu perhatian serius dari segenap pihak khususnya pada guru pembimbing atau konselor juga tak lepas dari peranan kepala sekolah, guru mata pelajaran, maupun staf kantor. Kurangnya perhatian terhadap masalah kesehatan mental peserta didik tak jarang berakibat pada timbulnya maladjustment atau tindakan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tentunya bisa sangat merugikan.
Manifestasi dari berbagai gejala gangguan kesehatan mental yang dialami peserta didik ini pada akhirnya akan mempengaruhi pencapaian kognitif akademik siswa berupa prestasi belajar dan berpengaruh terhadap perkembangan psikis yang tidak optimal pada siswa. Pengaruh pada prestasi belajar umumnya ditandai dengan menurunya daya tangkap materi yang diajarkan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan tugas maupun ujian yang berakibat pada jatuhnya hasil belajar yang ditandai dengan nilai-nilai yang tidak memenuhi standar. Sedangkan pada perkembangan psikis, hal ini terkait pada masalah kenakalan remaja berupa tingkah laku agresif, pergaulan bebas, tindak asusila dan sebagainya; kedisiplinan berupa menyontek, acuh terhadap tata tertib, ketidakrapian dalam berpakaian dsb; pada gangguan mental nampak pada sikap yang dingin pada lingkungan, selalu murung, nampak cemas yang belebihan, gejala narkotika, dsb.
Dari uraian singkat diatas secara umum kita mampu memahami kesehatan mental di lingkungan sekolah. Maka beberapa hal yang dapat diupayakan untuk menerapkan prinsip kesehatan mental di lingkungan sekolah Dr. Muh Surya (1985) mengungkapkan beberapa saran diantaranya:
1. Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah (at home) bagi anak didik, baik secara sosial, fisik, maupun akademis.
2. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak.
3. Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4. Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5. Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
6. Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat membesarkan motivasi belajar.
7. Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
8. Peraturan/tata tertib yang jelas dan difahami oleh murid.
9. Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
10. Teladan dari para guru dalam segala segi pendidikan.
11. Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
12. Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (konseling) yang sebaik baiknya.
13. Situasi kepemimpinan yang penuh saling pengertian dan tanggung jawab baik pada murid maupun pada guru.
14. Hubungan yang erat dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat.
15. Kerjasama yang baik dengan berbagai instansi yang berhubungan dengan masalah kesehatan.
16. Pelaksanaan UKS (usaha kesehatan sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
17. Penyediaan fasilitas belajar yang memadai.
Masih terkait dengan paparan diatas bahwa pendekatan yang digunakan pada peserta didik bukan lagi bersifat kuratif penyembuhan dimana tindakan muncul ketika siswa baru mengalami masalah tetapi lebih diarahkan pada perkembangan (developmental approach). Hal ini bersifat edukatif pengembangan dan outreach (Nurihsan : 2009)
Maka dibutuhkan layanan yang bersifat komprehensif dari tiap-tiap komponen sekolah. Konselor dituntut mampu memberikan layanan konseling serta mampu meyampaikan bimbingan dengan baik. Selain itu juga dituntut untuk dapat bersinergi dengan guru mata pelajaran, kepala sekolah, dan warga sekolah yang lain juga ketersediaan fasilitas yang mendukung guna terciptanya kesehatan mental di lingkungan sekolah.
b. Lingkungan Kerja
Sebagaimana biasa dilakukan, di sini kita pun membahas keselamatan dan kesehatan kerja bersama-sama. Tetapi walaupun pasti ada hubungan erat antara kesehatan kerja dan keselamatan kerja, ada alasan juga untuk membedakan dua masalah itu. Keselamatan kerja bisa terwujud bilamana tempat kerja itu aman. Dan tempat kerja adalah aman, kalau bebas dari risiko terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan si pekerja cedera atau bahkan mati. Kesehatan kerja dapat direalisasikan karena tempat kerja dalam kondisi sehat.Tempat kerja bisa dianggap sehat, kalau bebas dari risiko terjadinya gangguan kesehatan atau penyakit (occupational diseases) sebagai akibat kondisi kurang baik di tempat kerja.
Beberapa hal yang terjadi di lingkungan kerja yang menimbulkan gangguan mental :
1. Tuntutan pekerjaan
2. Rekan yang kurang kondusif
3. Iklim pekerjaan
c. Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sebagai tempat interaksi terdekat setelah lingkunga keluarga memiliki andil yang besar untuk menjadikan individu sehat mental atau tidak. Masyarakat memiliki pengaruh dalam membentuk pola pikir dan cara pandang diri sendiri atau orang lain. Beberapa hal yang terjadi di lingkungan masyarakat yang menimbulkan gangguan mental :
1. Penerimaan sosial masyarakat terhadap diri
2. Iklim pergaulan
3. Cara berfikir masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar